Pertanyaan2 yg timbul berkaitan dg pohon penyebab blackout :
Kalaupun ada gangguan antar phasa ke tanah kenapa hampir seluruh p. Jawa blackout?
Emangnya proteksi ndak bekerja ketika kejadian tu?
Emangnya tdk ada inspeksi saluran transmisi secara berkala dari PLN?
Apakah ground patrol dr pihak PLN tdk ada yg bertugas untuk inspeksi hal tsb secara berkala?
Kalaupun proteksi nyo rusak setelah kejadian gangguan tsb, utk ganti alat proteksi kan tdk terlalu lama dan apakah sampai harus indent spare part dulu?
Lagian pulau Jawa-bali kan interkoneksi, kalau satu saluran transmisi masalah, bisa diputus saja saluran yg ada masalah itu kan?
.
Pertanyaan2 diatas muncul saat saya membaca kutipan sebuah berita ttg pohon yg menjadi "tersangka utama" penyebab blackoutnya hampir sebagian besar daerah di pulau Jawa. Setelah saya telusuri dan berdiskusi dg narasumber2 yg ada di lapangan bahwa ternyata Jawa-Bali interkoneksi 500kV menggunakan 2 jalur 4 sirkit. 2 sirkit jalur utara, 2 sirkit jalur selatan. Nah pada saat kejadian waktu itu jalur utara 1 sirkit sdg dalam masa pemeliharaan, sehingga 1 sirkit saja yg aktif. Nah 1 sirkit yg aktif ini malah tersentuh oleh pohon sengon itu maka otomatis terjadilah gangguan antar fasa ke tanah dan yg terjadi adalah putus totalnya jalur listrik utara di Unggahan-Pemalang. Nah, daya dari timur ke barat lewat jalur utara ini kemana perginya? Ya menuju ke jalur selatan semuanya. Beban di"tangani" hanya satu jalur saja. Sistem sempat reclose kembali. Tapi krn pohon tsb tinggi, saat mengenai aliran sutet tsb trip kembali, Pas trip kedua ini, beban daerah Jateng pergi menuju ke barat dg kapasitas besar, maka terjadilah yg dinamakan "power swing" dan membuat pembangkit di Suralaya trip. Power swing ini menyebabkan tegangan dan arus berayun, kejadian ini di deteksi oleh relay distance GI Depok dan Tasik sehingga relay ini bekerja memberi perintah memutus masing2 GI yg bekerja, maka putus total lah interkoneksi antara timur dg barat. sistem jawa bali putus dan dg jumlah beban barat yg banyak dan tdk adanya bantuan supply daya dari timur menyebabkan under frekuensi di sistem barat, jaringan yg under frekuensi ini di baca oleh relay under frekuensi masing2 pembangkit di barat. Lalu terjadilah trip pembangkit Suralaya yg di barat itu untuk proteksi dirinya sendiri. Dan akhirnya blackoutlah juga sistem di bagian barat.
.
Tetapi beberapa media yg memblow up masalah ini bahasa nya menitikberatkan bahwa pohon merupakan "terdakwa utama" dari kejadian ini. Seandainya pohon itu bisa membela dirinya di "pengadilan" sbg terdakwa maka ia juga berhak mengajukan pertanyaan. Mengapa si pohon bisa leluasa tumbuh tinggi disitu? Mengapa tdk ada yg tahu? Apakah anggaran perawatan utk mentackle masalah si pohon yg "terus tumbuh tinggi" ini sudah tdk ada lagi? Dg kecanggihan teknologi saat ini kenapa SUTET itu masih bisa "pingsan" disentuh si pohon? Pikiran saya sejenak dibawa kembali ke dalam kelas saat saya belajar di kampus mata kuliah pembumian sistem energi listrik dan analisa sistem tenaga. Ya walaupun nilai saya "cukup memuaskan" di mata kuliah ini saya jadi tahu bahwa jangankan sampai nyentuh. Memasuki medan magnetnya pun sudah mengganggu. Bisa terjadi short circuit. Yang mengakibatkan aliran listrik menjadi terputus pada akhirnya. Apalagi SUTET tsb tegangannya sangat tinggi dan tentunya area medan magnetnya juga pasti sangat luas.
Karena 1 buah pohon imbas nya sangat besar. Tapi dari pihak PLN memang ada bagian yg mengurusi area dibawah SUTET utk memastikan terbebas dari gangguan yg tdk diinginkan seperti adanya pohon tsb dll yg dinamakan pasukan ground patrol. Tetapi ground patrol ini merupakan tugas dari vendornya PLN alias pihak ketiga. SUTET tu harus bisa clear dr apapun di jalur yg dilaluinya tetapi usut punya usut bahwa tanah yg dimiliki oleh PLN hanya di tower tsb. Maka sepanjang saluran transmisi yg di bawah itu bebas dan merupakan tanah masyarakat. Apalagi ada beberapa kawasan yg dilintasi SUTET masuk ke dalam hutan lindung. Tpi tdk dibeli semuanya, hanya selebar jaringannya saja. Apa yg terjadi?
.
Dan pertanyaan yg terus berputar2 di pikiran saya adalah apakah anggaran patroli ini masih ada? Atau manajemen patrolinya yang lemah? Atau patroli sudah dilakukan, laporan sudah dibuat, tapi tidak ada anggaran penebangan pohon? Dan yg paling menggelitik tentu saja keresahan2 netizen atau bahasa kerennya elektrijen yg menanyakan kenapa recoverynya begitu lama? Mungkin hanya pihak PLN dan tuhan sajalah yg tahu. Memang soal anggaran adalah masalah klasik yg menghantui organisasi2 manapun dan memang seperti itu. Tapi saya lebih berpikir mungkin saja semua ini hanya persoalan nasib yg kurang beruntung apalagi kita tahu PLN baru saja dipimpin oleh plt dirut yg baru yg bahkan usia jabatannya blm genap 1 minggu bahkan. Mungkin memang pohon tsb bukan satu2nya tersangka. Menang ironi, org2 yg bekerja di PLN pasti pernah mendengar seloroh bahwaPLN yg "selalu rugi" katanya mungkin merupakan perusahaan BUMN yg "diperkosa" bersama-sama tetapi tidak mau telentang kah? Dan lebih ironi lagi keadilan listrik bagi seluruh rakyat Indonesia juga blm tercapai secara maksimal. Dan tentunya yg paling sangat ironi ya tentu saja listrik itu baru akan diingat org2 justru saat dia mati kalau kata pak Dahlan Iskan.
2019/08/07
Fenomena Blackoutnya sebagian pulau Jawa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
patah
kon on katanya setiap orang akan mengalami patah yang akan merubah cara pandang tentang cinta seumur hidupnya. jadi sebelum kamu memasuki hi...
-
Belum dapat saya cerna dgn baik dalam pikiran saya, kenapa banyak dari kita yg menertawakan aib dan kekurangan2 pemimpin kita. Seseorang yg ...
-
Berawal dari chit chat di WA dengan Ratna, mantan anak KP ciheras yg lebih senior dari saya. Banyak hal yg kami bahas mulai dari hal2 berat ...
-
MAKALAH DASAR TEKNIK ELEKTRO TENTANG IDE GILA Disusun oleh: KELOMPOK 7 AMANDA KH...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar