PERSYARATAN MENJADI ICHIRIYU
Yang kita tuju itu adalah menjadi seseorang kelas satu, bukan nomor satu. Orang yang kelas satu itu baik di pekerjaannya atau di bidang keahliannya itu memiliki sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh orang lain. Selalu mengasah dirinya untuk berevolusi semakin membaik, memiliki warna/aura diri tersendiri yang khas dan tidak dimiliki oleh siapapun. Oleh karena itu dia selalu mendapatkan kepercayaan dari sekeliling sehingga ia selalu terpilih untuk pekerjaan berikutnya. Di dalam pekerjaan juga kualitasnya sangat tinggi. Dan apapun yang dikerjakannya selalu sungguh-sungguh.
Akan tetapi orang yang ichi-riyu ini sifatnya dinamis, tidak kaku, benar-benar sungguh-sungguh tapi bukan berarti dia kaku. Bekerja dengan nyaman dan tenang serta penuh semangat. Apalagi jika bekerja di dalam perusahaan-perusahaan kelas satu itu yang selalu menjaga tradisi namun juga berevolusi menyesuaikan dengan keadaan zaman. Sehingga meskipun zaman berubah ia tetap dicintai sepanjang zaman. Sehingga mereka tak mengenal yang namanya krisis karena bagi mereka itu hanya sesuatu yang harus dilewati saja.
1. Untuk Menjadi Kelas Satu Tidak Memerlukan Talenta.
Untuk menjadi ichi-riyu itu apakah syaratnya dan apa yang dibutuhkan ?. Apakah sebuah talenta yang khusus?, pendidikan yang tinggi?, apakah harus memiliki karir pekerjaan yang mentereng?, apakah sertifikat-sertifikat yang banyak? Ya, memang itu adalah salah satu senjata tapi bukanlah sesuatu hal yang wajib dimiliki. Hal yang paling penting sebagai syarat untuk menjadi seorang ichi-riyu itu adalah self confident/kepercayaan diri.
Apa itu self confident ? yaitu memiliki kepercayaan diri yang benar terhadap diri sendiri serta mampu menghormati dirinya. Maksudnya disini adalah pertama ia menerima dirinya apa adanya. Dan dalam melakukan pekerjaannya selalu memberikan yang terbaik dan tidak meremehkan. Tapi juga tidak terlalu berlebihan dalam mendapatkan hal-hal yang ia inginkan. Mungkin segala sesuatu bisa dilakukan oleh semua orang, tetapi tidak semua orang yang bisa sehingga disebut dengan ichi-riyu itu kecuali hanya sedikit sekali.
2. Penulis Tidak Akan Membandingkan Diri Penulis Dengan Orang Lain, Penulis Tidak Akan Meremehkan Diri Penulis Dan Penulis Juga Tidak Akan Membesar-Besarkan Diri Sendiri.
Dengan segala yang baik dan yang kurang pada diri kita maka kita harus menerimanya dan menghormatinya di depan siapapun dalam kondisi apapun. Kita juga jangan ke-pede-an serta tetap wajar dalam hal apapun. Itulah yang namanya “i’m perfect as i’m”. Tidak meremehkan sekeliling, tidak meremehkan diri sendiri, tidak menganggap lebih diri sendiri, dan tidak juga menganggap lebih dari orang lain. Jadi apa tujuan yang kita ingin capai itu dan bagaimana cara mendapatkan itu, serta apa yang diperlukan untuk mencapainya sudah harus selesai dipikirkan didalam kepala kita semuanya.
Kita mengatakan bahwa kita menerima diri kita apa adanya itu bukan berarti bahwa kita seperti ini aja deh dan gak usah berusaha maksimal. Bukan seperti itu, tetapi kita harus beranggapan bahwa kita harus tumbuh lebih baik daripada itu. Menghormati potensi yang ada pada diri sendiri kemudian tidak menyesali dan tidak meremehkan upaya-upaya untuk mencapai target tersebut. Dan sebaliknya juga tentu saja kita harus menghormati orang lain baik itu partner kita, lawan kita, maupun orang lainnya dengan pemikiran “you are perfect as you are”. Jadi untuk kita menjadi sempurna dan mencapai kelas satu kita tidak perlu merendahkan orang lain, dan tentunya tetap respek terhadap orang lain.
3. Kondisi Dalam Self Confidence Itu Adalah Bagaimana Kita Selalu Dalam Keadaan Best/Terbaik.
Dalam bentuk pekerjaan apapun, terhadap siapapun dia, baik yang tua, yang muda, orang dewasa, bahkan anak kecil sekalipun berusahalah walaupun sudah di detik-detik terakhir untuk tetap memberikan usaha terbaik yang kita bisa. Kalau kita bisa menampilkan hal seperti ini maka sudah dipastikan kita bisa memberikan performa terbaik kita. Sehingga kalau kita sudah dalam kondisi the best kita maka tidak akan ada yang namanya ketakutan dalam melakukan suatu pekerjaan atau terburu-buru melakukannya atau sembunyi-sembunyi ketika ada kesalahan yang telah diperbuat ketika melakukan suatu pekerjaan.
Contohnya juga ketika kita akan melakukan suatu presentasi di hadapan klien maka kita akan ragu-ragu dalam presentasi dikarenakan ketidak percayaan diri kita terhadap apa yang kita lakukan dan kurangnya persiapan kita. Oleh karena itu sedapat mungkin berusahalah melakukan persiapan sebaik mungkin. Bagi penulis bakat dari langit itu bukan dia yang tidak ngapa-ngapain atau dia yang sedikit usaha langsung bisa, tetapi bagi penulis bakat dari langit itu adalah dia yang di awal-awal tidak bisa tetapi dia ingin bisa, dan ia berjuang untuk bisa sehingga ia akhirnya mencapai kebisaannya itu lah yang penulis sebut dengan bakat langit sesungguhnya.
Jika berbicara tentang persiapan itu adalah seperti ketika kita pergi berperang segala sesuatu yang menjadi alasan kita untuk pulang itu harus diselesaikan dulu sebelum kita berangkat. Anda melakukan segenap pikiran dan segala kemampuan anda untuk menyelesaikannya sebelum kita kembali pulang, sehingga ketika pulang itu kita nanti hanya membawa satu dari dua hal, yaitu ternyata persiapan kita matang atau ternyata persiapan kita tidak matang. Tidak ada alasan misalnya kalau kita bermain sepak bola alasan kekalahan kita adalah karena kita dicurangi wasit, atau lapangannya membuat performa kita menurun, dan alasan-alasan lainnya. Yang sebenarnya membuat anda kalah adalah anda tidak melakukan persiapan bahkan persiapan untuk menang meskipun wasit curang sekalipun.
Begitu banyak engineer-engineer di Indonesia ini setelah pulang itu menyalahkan “wasit” contohnya seperti orang-orang berpendidikan lainnya lakukan. Kita ketahui orang-orang seperti ini dengan penemuan alat nya untuk mengatasi berbagai macam hal begitu luar biasa dan fenomenal namun pada saat orang-orang seperti ini berhadapan dengan realita negara ini serta keadaan pemerintahan saat ini membuat apa yang ia bawa pulang membuatnya menjadi ingin pergi kembali yaitu Indonesia tidak menerima teknolginya. Jangan disalahkan Indonesia atau oknum-oknum lainnya yang tidak menerima karya kita, ini menyalahkan wasit namanya. Tandanya apa? kita lagi-lagi tidak mempersiapkan diri untuk menang sekalipun dicurangi oleh wasit sendiri. Maka sekali lagi saat persiapan kita kurang dan kita belum bisa memberikan yang terbaik maka jangan salahkan siapa-siapa, tetapi salahkanlah diri kita.
4. Ketika Kita Berhadapan Dengan Sesuatu Hal yang Memang Tidak Mungkin Untuk Dikerjakan Maka Tinggalkan Itu.
Pastinya kita selalu ingin melakukan yang terbaik, tetapi semangat yang berlebihan dan mengerjakan sesuatu hal yang secara logika tidak mungkin untuk dilanjutkan tetapi tetap kita lanjutkan maka janganlah dilanjutkan. Kenapa ? karena kalau kita lakukan hal itu dan pada kondisi saat itu performa kita tidak akan naik dan orang-orang di sekeliling kita yang akan capek duluan. Kita tahu bahwa kita sendiri sudah tidak bisa melanjutkan pekerjaan itu dan orang-orang di sekeliling kita sudah capek dan tidak bisa juga melanjutkannya. Maka kalau sudah berada di kondisi saat ini tinggalkanlah itu dan jangan terlalu bersemangat berlebihan. Ini terjadi karena kita tidak mampu mengukur diri dan kemampuan kita sendiri sehingga pada akhirnya kita terlalu memaksakan diri kita sendiri dan bukannya meningkatkan performa kita malah menurunkan performa kita dalam bekerja ataupun melakukan/mengharapkan sesuatu.
Apapun yang difikirkan orang itu tidak perlu terlalu dipermasalahkan tapi jangan pula kita remehkan. Yang penting adalah bagaimana kita tetap selalu memberikan/menyadari bagaimana kemampuan kita dan orang-orang di sekeliling kita. Sehingga dengan kepercayaan diri ini juga walaupun nantinya kita mendapat nilai rendah terhadap apa yang kita kerjakan itu tidak membuat kita berkecil hati. Penilaian minus itu bukan berarti kita tidak bisa lagi bertumbuh tetapi penilaian minus itu harus kita terima dan nantinya kita usahakan agar menjadikan kita untuk terus memperbaiki diri sehingga bisa bertumbuh lebih baik lagi. Selagi masih ada orang yang dinilai minus atau dikritik itu langsung marah atau pengen nonjok kalau yang mengkritik/menilainya orang yang lemah, namun langsung ciut dan nge-down saat yang mengkritik adalah orang kuat itu tidak akan bisa membuat kita dan pekerjaan kita apalagi negeri kita ini semakin membaik.
Jadi kalau ada penilaian yng minus kepada kita itu harus kita terima dan respon secara wajar saja sehingga kita terhindar dari stress yang tidak perlu dan bahu kita pun terasa ringan dan orang-orang disekitar kita rileks dengan kita serta kita pun menjadi lebih mudah menyampaikan pendapat kita dan orang-orang itu pun juga mudah mendengarkan kita. Sehingga pada akhirnya apa yang kita kerjakan adalah hanya untuk meyakinkan orang lain. Jadi lakukanlah hal-hal yang penting dan mneurut kita bisa kita lakukan dan jangan melakukan sesuatu yang mubazir yang telalu memaksakan diri kita.
5. Orang-Orang yang Memiliki Kepercayaan Diri yang Benar Terhadap Dirinya Maka Dia Akan Mampu Membawakan Dirinya Untuk Mampu Bersosialisasi Baik dengan Orang yang Lebih Tinggi Kelasnya Dari Dia Maupun yang Lebih Rendah Kelasnya Dari Dia.
Tak hanya terhadap orang yang lebih tinggi pangkatnya dari dia, bahkan kepada anak kecil sekalipun ia tetap memberikan pelayananannya yang terbaik. Karena dia mampu berkomunikasi dengan baik kepada siapapun maka apapun pekerjaannya bisa dijalankan dengan lancar dan mulus. Orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang benar terhadap dirinya maka dia akan mampu mengakui kelebihan-kelebihan yang ada pada orang lain. Oleh karena itu kemanapun ia pergi bertemu dengan siapapun pasti dia akan mempelajari sesuatu yang pas untuk dirinya dan membawanya pulang. Perasaan ingin bersaing dengan orang lain dan mengatakan bisa terhadap sesuatu yang gak bisa kita lakukan demi bisa bersaing dengan orang lain serta meremehkan orang yang kita anggap pesaing itu membuat kita tidak mendapatkan ilmu darinya.
Sifat kita yang seperti itu sama saja dengan kita membuang-buang waktu bersama dia. Seandainya adapun hal-hal yang bagus yang kita lihat dari dia dan kita tidak berbesar hati mengakuinya sehingga diam-diam kita curi dan menirunya dengan diam-diam itu bukanlah orang yang memiliki kepercayaan yang benar terhadap dirinya. Orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi itu pasti akan memiliki manner yang benar.
6. Kebanyakan Orang Ketika Mendapat Suatu Halangan atau Rintangan di Dalam Pekerjaannya Maka Ia Akan Menangis Didepan Pekerjaannya atau di Dinding Kamarnya. Menyalah-nyalahkan Orang atau Keadaan yang Menghambat Pekerjaannya. Sehingga Ia Lupa Mengukur dan Mengamati Serta Tetap Terus Mencari Solusi dari Rintangan yang Sedang Ia Hadapi.
Kita jangan takut terhadap kegagalan karena menurut penulis kegagalan itu bukanlah sesuatu yang jelek. Apapun hal yang baru yang kita temukan maka kita akan gembira untuk mencoba dan menghadapinya. Tidak ada orang yang terpuruk jatuh ke dasar karena gagal, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar orang lain tidak terkena dampak kegagalan yang telah kita perbuat dan bagaimana kegagalan ini agar tidak terulang kembali. Karena kegagalan itu adalah kesempatan untuk kita kembali belajar.
Yang perlu kita tanamkan dalam diri kita bahwa tidak ada dinding/hambatan dalam pekerjaan kita, yang ada itu adalah pintu-pintu untuk kita mencapai hasil yang terbaik dari apa yang kita lakukan. Sehingga hambatan/dinding itu tidak perlu kita hancurkan atau kita lompati, tetapi anggaplah hambatan tersebut sebagai pintu tertutup yang harus kita cari kuncinya atau cek pintu yang lain yang bisa kita buka walaupun memerlukan waktu yang tidak sebentar. Dengan berpikir seperti itu maka setidaknya stress kita akan turun dan kita bisa mencari penyelesaian dari hambatan-hambatan yang kita hadapi dan tidak ada halangan atau hambatan yang tidak bisa di selesaikan.
7. Jadilah orang-orang yang bila diberikan kesempatan maka dia akan memanfaatkannya sebaik-baiknya.
Orang-orang yang percaya diri di depan siapapun ia tidak kelabakan. Sehingga orang-orang yang tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya inilah disebut sebagai suatu jalan untuk mencapai ichi-riyu. Percayailah mata orang yang mempercayai dan memberikan kesempatan kepada kita. Kalaupun ada pekerjaan yang ketika diberikan kepada kita belum mampu kita kuasai maka tugas seorang ichi-riyu itu adalah pertama mencoba menguasainya sehingga melakukan yang terbaik untuk menjawab harapan tersebut sehingga dia selalu membawa nilai positif terhadap sekelilingnya karena ia selalu memiliki perasaan terima kasih kepada orang-orang yang memberikan kesempatan kepada dirinya. Orang-orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kemudian menaikkan kemampuannnya sedikit demi sedikit, maka bagi orang-orang di sekelilingnya adalah ia dianggap pantas untuk diberi kesempatan lebih baik lagi kepadanya.
8. Sifat Bersyukur dan Merasa Beruntung.
Percaya bahwa kita orang yang beruntung adalah salah satu persyaratan menjadi ichi-riyu. Apa arti dari kita adalah orang-orang yang beruntung?. Orang yang berunutung itu bukan orang yang tidak pernah terjadi apa-apa terhadap dirinya atau tidak pernah menemunkan kesulitan yang berarti. Bukan itu, yang dimaksud keberuntungan yang besar itu adalah dimana segala yang terjadi pada diri kita itu menjadi pembelajaran. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan tidak memuaskan kita maka kita jangan menganggap itu suatu ketidakberuntungan.
Orang yang keberuntungannya tinggi itu adalah bagaimana ia bisa merasa berterima kasih terhadap pertemuan dengan kesempatan-kesempatan sehingga setiap pertemuan dengan kesempatan-kesempatan itu memiliki pembelajaran tersendiri. Orang yang merasa dirinya sial atau tidak pernah beruntung itu akan menyebabkan kesempatan-kesempatan yang akan ia temukan menjadi lari darinya atau orang tersebut tidak mampu melihat kesempatan yang benar. Jika kita ingin menarik sebuah kesemptan itu pertama perasaan bersedih dan perasaan meremehkan harus kita jauhkan
9. Jangan Pernah Membandingkan Diri Kita dengan Orang Lain tetapi Bandingkanlah Diri Kita Sedikit Sebelumnya.
Di dalam Islam juga dikatakan bahwa orang yang beruntung itu adalah orang yang ia lebih baik daripada hari kemarin. Orang yang merugi adalah orang yang sama dirinya sekarang dengan dirinya kemarin, dan celaka apabila dirinya sekarang lebih buruk dari yang kemarin. Jika kita tiidak bisa menerima diri kita maka yang pertama yang harus kita ketahui adalah untuk membedakan antara hal yang kita bisa dan hal yang telah kita bisa. Hal yang kita bisa itu adalah hal yang rasa-rasanya kita bisa tapi belum kita kerjakan dengan yang telah kita bisa yaitu hal yang kita bisa melakukannya dan telah pula kita kerjakan. Dalam menetapkan kedua hal ini maka kita membutuhkan standarisasi/pembanding.
Kalau kita bandingkan dengan orang lain maka yang terasa akan selalu kurang atau kita merasa kita lebih baik dari orang lain. Maka untuk membandingkan kedua hal ini bandingknanlah dengan diri kita sedikit sebelum saat ini. Sehingga hal yang kita awalnya merasa tidak bisa sedikit demi sedikit kita coba pelajari dan latih akhirnya bisa juga. Maka dari itu kita harus akui upaya-upaya yang telah kita lakukan dan bandingkan diri kita sekarang dengan sebelumnya. Jagan pernah menyesali diri kita sendiri. Berikan pengakuan 100% tentang hal yang telah kita bisa lakukan. Namun, untuk kita bisa tumbuh berkembang kita harus punya keinginan untuk tumbuh seperti ini seperti itu atau seperti hal yang kita ingin bisa. Maka kita perlu menginventaris apa hal yang kita bisa dan apa hal yang kita ingin bisa sehingga kita bisa melihat kekurangan-kekurangan kita untuk memperbaikinya dan tumbuh berkembang. Tetapkan tujuan kita lalu belajar untuk menuliskannya dengan kata-kata.
Dalam mencapai hal yang kita inginkan ada 3 point yang harus diingat, pertama adalah perihal-perihal kalau itu tercapai kita menjadi senang. Yang kedua adalah perihal berjuang agar bisa dan kebisaan itu tidak akan dicapai kalau tidak berjuang. Dan yang ketiga adalah tidak untuk mencapai nomor satu apabila telah bisa, tetapi mencoba untuk mencapai kelas satu sehingga didalam pikiran kita itu kita tidak memusatkan pandangan ke orang lain apalagi sampai ingin menjatuhkan orang lain. Menjadi nomor satu hanyalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain sehingga ini disebut dengan perbandingan relatif. Tetapi bandingkanlah diri kita dengan diri kita sendiri sebelumnya karena inilah perbandingan yang mutlak/absolut. Karena tujuan kita adalah mencapai kelas satu bukan nomor satu
10. Yang Kita Kejar Bukan Kesempurnaan Karena Kesempurnaan Yang Kita Pikirkan Itu Belum Tentu Itu Nilai 100 Mutlak Bagi Orang Lain.
Sebenarnya kita hanya mengerjakan kesempurnaan yang ada di mata kita saja dan belum tentu apa yang sempurna di mata kita sempurna juga di mata orang lain. Sesungguhnya di dalam hakikat bekerja tidak ada yang namanya sempurna. Yang paling penting kita pahami adalah prioritas yang diinginkan orang lain seperti apa. Untuk menjawab prioritas yang diinginkan orang lain itu terhadap apa yang kita kerjakan dengan peralatan dan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya yang usaha terbaik yang kita bisa. Kalau kita mau mendengarkan dengan baik dan penuh kesabaran apa yang dimaksud oleh kustomer kita atau teman-teman kita, apakah yang diinginkanya kecepatan kita kah, atau ia menginginkan kualitas yang paling utamakah, atau ia ingin ada inovasi di produk atau pekerjaan yang kita buat, dst. Disanalah kita bisa memahami orang tersebut kalau kita mau mendengarkannya dengan penuh kesabaran.
Kita terlalu sering menjadikan hati dan akal kita sebagai alat ukur kita terhadap orang lain. Hal ini tentu boleh-boleh saja di dalam dunia seni, tetapi kalau alat ukur seperti ini kita bawa ke kehidupan sehari-hari dan kita terapkan alat ukur kita ini kepada orang lain maka hal ini sangat tidak boleh. Bekerja dengan sangat baik dan hati-hati itu penting, tetapi bukan berarti mengejar perfect menurut kita. Sehingga untuk menjadi seorang ichi-riyu itu jangan mengejar perfect menurut kita tetapi pahami prioritas yang diinginkan orang lain seperti apa terhadap sesuatu yang ingin kita kerjakan untuknya. Sampai detik-detik terakhir pun jangan bekerja serampangan atau asal-asalan juga jangan bekerja terburu-terburu.
Detik kita mengatakan sesuatu yang kita kerjakan sudah selesai coba cek ulang lagi apa hal yang kurang atau yang perlu ditambahkan atau ada hal yang berlebihan sehingga harus dikurangi. Walaupun mengecek ulang pekerjaan ini adalah pekerjaan yang kecil, namun seorang ichi-riyu gak boleh mengabaikan hal kecil seperti ini. Dengarkanlah perkataan orang lain dengan tulus dan hati yang tenang. Terhadap orang lain dan diri sendiri itu belajarlah dan coba untuk tuluslah, jujurlah, dan bersungguh-sungguhlah. Terhadap diri sendiri jujurlah, jangan memperlihatkan diri kita solah-olah bisa padahal sesungguhnya tidak bisa. Dalam bekerja tidak boleh manja dan tidak boleh membaca terlalu dalam sehingga kita berpersepsi yang negatif/su’udzon kepada orang lain. Kalau kita tidak punya hubungan saling kepercayaan satu sama lain kita tidak akan pernah bisa bekerja apalagi menghasilkan hasil yang bagus.
Oleh karena itu dengan kita berusaha tulus dan bersungguh-sungguhlah menjadi dasar dari kepercayaan yang didalamnya itu ada rasa berterima kasih. Sebisa mungkin jangan pernah berterima kasih didalam hati, tetapi ucapkanlah kata-kata terima kasih itu. Kalau rasa terima kasih itu tidak kita ucapkan dengan mulut kita maka lawan kita tidak akan pernah tahu apalagi mengerti. Sampaikanlah rasa terima kasih kita itu dengan gentle dan tidak berlebihan karena kata-kata berterima kasih itu bagi manusia sangat menyenangkan dan menggembirakan dan bersemangat untuk melanjutkan ke pekerjaan berikutnya.
11. Buatlah Kosakata Kita Sendiri.
Naluri Kita, Sikap Kita, Perasaan Kita yang Sebenarnya Tanpa Sadar Itu Keluar Bagaimana Kita Sebenarnya.
Kata-kata yang keluar dari mulut kita itu sangat mempengaruhi perasaan kita dan keinginan kita untuk tumbuh. Cek lagi kebiasaan-kebiasaan kita yang menurut kita tidak baik. Buatlah kosakata yang tidak ada dalam kamus kita itu adalah kata sibuk, capek, gagal, gak beruntung, sulit. Sehingga apa adanya kita itu sudah oke dan terbaik. Penulis tidak pernah memiliki perasaan aneh karena penulis selalu merasa beruntung. Seandainya penulis melakukan kesalahan pun penulis menemukan pelajaran didalam kesalahan yang penulis perbuat untuk diperbaiki segera. Sehingga penulis tidak merasa kesalahan penulis itu adalah kegagalan.
Kalau kata-kata seperti diatas yaitu sibuk, capek, dsb kita ucapkan itu hanya menunjukkan kelemahan kita dan berarti bahwa kita adalah orang yang tidak bisa memanajemen waktu dengan baik dan tidak mempersiapkan tahapan-tahapan pekerjaan yang bagus. Kosakata lainnya yang sering penulis buat adalah sungguh-sungguh, terimakasih, mubazir, senang. Kadang-kadang penulis memperbaiki kamus penulis berdasarkan kondisi saya. Penulis bayangkan bagaimana diri penulis yang ingin penulis capai dan dari sanalah penulis memperbanyak kosakata yang memberikan nilai bagus untuk diri penulis yan penulis bayangkan. Cek lagi kata-kata yang sering kita ucapkan agar dapat kita perbaiki sehingga kita bisa menjadi seorang ichi-riyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar